Minggu, 23 Agustus 2026
WITA. 00:00:00
Kepala Stasiun

Memasuki periode puncak Musim Kemarau Agustus hingga September mendatang yang lebih kering akibat El Nino, BMKG mengimbau untuk penguatan mitigasi lintas sektor dan peningkatan kesiagaan darurat kekeringan serta bahaya kebakaran hutan juga lahan, termasuk mengoptimalkan pengaturan irigasi untuk sektor pertanian. ⁠Waspada angin kencang yang bersifat kering berpotensi menyebabkan kebakaran hutan juga lahan yang sekaligus dapat mempercepat luas kobaran api.

Selengkapnya
Info cuaca NTT

29°C

Kupang (Pusat NTT)

Cerah Berawan

Kondisi Cuaca Daerah NTT Lainnya :

Gagal memuat list daerah sekunder. Silakan muat ulang.
Lihat Peta Cuaca Lengkap di BMKG Pusat
Gempa Terkini (Live)

Dapatkan pembaharuan informasi klimatologi, update musim, probabilistik curah hujan secara real-time dan akurat.

M

Kedalaman:

Status Potensi & Waktu Kejadian: -
Detail Peta Gempabumi BMKG

Berita Aktual

2026-07-27

Oelamasi 23 Juli 2026 — Dalam upaya memperkuat mitigasi bencana dan adaptasi iklim di daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang bersama Yayasan Obor Berkat Indonesia (YOBI) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyusun rancangan kesepakatan bersama. Kerja sama lintas sektor ini berfokus pada sinergitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika di wilayah Kabupaten Kupang. Rancangan kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengintegrasikan data ilmiah mengenai cuaca, iklim, dan potensi kegempaan ke dalam rancang bangun kebijakan daerah. Dengan letak geografis Kabupaten Kupang yang memiliki tantangan iklim tersendiri, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem peringatan dini yang lebih baik dan perencanaan tata ruang yang aman dari risiko bencana. Keterlibatan Yayasan Obor Berkat Indonesia (YOBI) sebagai mitra non-pemerintah menjadi nilai tambah dalam kesepakatan ini. Kehadiran YOBI diharapkan dapat menjembatani program-program pemerintah dan BMKG agar lebih cepat menyentuh masyarakat akar rumput, khususnya dalam hal edukasi kesiapsiagaan bencana dan pemberdayaan masyarakat berbasis data iklim. Melalui sinergi tiga pilar ini—pemerintah daerah, lembaga ahli (BMKG), dan organisasi masyarakat (YOBI)—Kabupaten Kupang diharapkan tidak hanya mampu merespons ancaman bencana alam dengan lebih cepat, tetapi juga mewujudkan pembangunan daerah yang tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Baca Artikel
2026-07-23

Kupang – BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur berpartisipasi dalam Lokakarya Penguatan Sistem Peringatan Dini Desa Hulu Mendukung Aksi Merespons Peringatan Dini Desa Hilir yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Catholic Relief Services (CRS) Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi melalui penguatan sistem peringatan dini berbasis informasi cuaca dan iklim. Dalam kegiatan tersebut, BMKG menyampaikan materi mengenai peran informasi meteorologi dan klimatologi dalam mendukung sistem peringatan dini yang efektif. Informasi cuaca dan iklim yang akurat, tepat waktu, dan mudah dipahami merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung pengambilan keputusan serta pelaksanaan langkah-langkah mitigasi sebelum bencana terjadi. Lokakarya ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan koordinasi, berbagi pengalaman, serta menyusun strategi dalam memperkuat implementasi sistem peringatan dini yang terintegrasi dari wilayah hulu hingga hilir. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan setiap pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing dalam mendukung aksi respons peringatan dini. Partisipasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur merupakan wujud komitmen dalam mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat melalui penyediaan informasi meteorologi dan klimatologi yang andal. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun sistem peringatan dini yang lebih efektif, responsif, dan berkelanjutan. Melalui sinergi yang terus diperkuat antara BMKG, Catholic Relief Services (CRS) Indonesia, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya, diharapkan upaya pengurangan risiko bencana hidrometeorologi di Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat terlaksana secara lebih optimal. Dengan demikian, masyarakat akan semakin siap, tangguh, dan adaptif dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim.

Baca Artikel
2026-07-23

Kupang – BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam rangka penguatan implementasi Impact-Based Forecasting (IBF) sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini berbasis dampak di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menjadi wadah koordinasi dan diskusi lintas sektor untuk menyamakan persepsi, memperkuat kolaborasi, serta mengevaluasi kesiapan data dan informasi yang dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD). Dalam forum tersebut, para peserta membahas pembaruan ketersediaan data pendukung IBF, mekanisme pertukaran informasi antarinstansi, serta strategi penguatan sistem peringatan dini yang lebih efektif dan tepat sasaran. Sebagai penyedia informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika, BMKG memiliki peran strategis dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim yang akurat, tepat waktu, serta mudah dipahami sebagai dasar penyusunan langkah antisipasi dan pengambilan keputusan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Melalui sinergi yang terjalin antara BMKG, BPBD, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, diharapkan implementasi Impact-Based Forecasting (IBF) dapat semakin optimal dalam mendukung penyelenggaraan sistem peringatan dini yang berorientasi pada dampak. Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya, tetapi juga memberikan gambaran mengenai risiko dan dampak yang mungkin terjadi sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi. Partisipasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur dalam kegiatan ini merupakan wujud komitmen untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana serta meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap ancaman bencana hidrometeorologi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca Artikel
2026-07-23

Kunjungan Akademik Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ke Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur.. Kupang – Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur menerima kunjungan akademik dari mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap penerapan ilmu meteorologi dan klimatologi dalam berbagai bidang, khususnya teknik sipil. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai tugas dan fungsi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya peran Stasiun Klimatologi Kelas I NTT dalam melaksanakan pengamatan unsur-unsur iklim, pengelolaan data klimatologi, serta penyediaan informasi iklim yang mendukung berbagai sektor pembangunan. Selanjutnya, para mahasiswa diajak mengunjungi taman alat stasiun klimatologi NTT untuk melihat secara langsung berbagai instrumen pengamatan cuaca dan iklim yang digunakan dalam pengumpulan data. Pada sesi ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai prinsip kerja alat, parameter yang diamati, serta tahapan pengolahan data hingga menjadi informasi klimatologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya data meteorologi dan klimatologi sebagai dasar dalam perencanaan infrastruktur, mitigasi risiko bencana hidrometeorologi, pengelolaan sumber daya air, serta mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur berharap kunjungan akademik ini dapat memperkuat sinergi antara BMKG dan dunia pendidikan, sekaligus menjadi sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami peran strategis informasi iklim bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Baca Artikel
2026-07-06

KUPANG 30 Juni 2026, NTT – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Food Programme/WFP) terus mempercepat transformasi sistem penanggulangan bencana. Melalui kolaborasi lintas sektor, pendekatan penanganan bencana di NTT kini secara resmi bergeser dari reaktif menjadi antisipatif melalui penguatan sistem Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) dengan pendekatan Impact-Based Forecasting (IBF). Langkah ini dilakukan untuk mendukung penuh implementasi Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) Langkah progresif ini dimatangkan dalam Workshop Pengembangan Rencana Kerja Informasi Risiko dan Peringatan Dini yang melibatkan BPBD, BMKG, BNPB, perangkat daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, hingga mitra pembangunan. Peran Sentral BMKG sebagai Koordinator Sub Pokja Dalam arsitektur Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) di NTT, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memegang peran yang sangat krusial. BMKG secara resmi ditunjuk sebagai Koordinator Sub Kelompok Kerja (Pokja) Manajemen Informasi dan Peringatan Dini. Sebagai koordinator, BMKG menjadi motor penggerak utama dalam memastikan data cuaca dan iklim tidak hanya berhenti sebagai informasi teknis, melainkan dapat memicu aksi keselamatan. Kolaborasi sebagai Kunci Aksi Nyata Keberhasilan sistem peringatan dini tidak diukur dari seberapa canggih alat pendeteksi atau seberapa cepat informasi disebarkan, melainkan dari kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam menerjemahkan informasi tersebut menjadi aksi nyata untuk melindungi masyarakat. Workshop ini dirancang untuk mencapai beberapa target operasional, antara lain: • Menghasilkan rencana kerja AMPD yang implementatif dan tidak sekadar konsep di atas kertas. • Menyusun panduan operasional mengenai mekanisme pengambilan keputusan yang murni berbasis risiko dan dampak. • Memperkuat kesiapsiagaan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Sebagai mitra strategis, WFP menegaskan bahwa mereka tidak membawa model baku dari luar. WFP hadir untuk memfasilitasi proses, memperkuat kapasitas, menghadirkan pengalaman global, serta mendukung Pemprov NTT dan BMKG dalam mengembangkan sistem peringatan dini yang paling sesuai dengan karakteristik dan kearifan lokal wilayah Nusa Tenggara Timur. Implementasi aksi dini adalah tanggung jawab bersama yang hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi erat tanpa ego sektoral.

Baca Artikel