Minggu, 23 Agustus 2026
WITA. 00:00:00

Workshop pengembangan Recana Kerja pengembangan Informasi Risiko dan peringatan Dini Pokja AMPD Provinsi NTT

Diterbitkan pada: 2026-07-06

KUPANG 30 Juni 2026, NTT – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Food Programme/WFP) terus mempercepat transformasi sistem penanggulangan bencana. Melalui kolaborasi lintas sektor, pendekatan penanganan bencana di NTT kini secara resmi bergeser dari reaktif menjadi antisipatif melalui penguatan sistem Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) dengan pendekatan Impact-Based Forecasting (IBF). Langkah ini dilakukan untuk mendukung penuh implementasi Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD)
Langkah progresif ini dimatangkan dalam Workshop Pengembangan Rencana Kerja Informasi Risiko dan Peringatan Dini yang melibatkan BPBD, BMKG, BNPB, perangkat daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.
Peran Sentral BMKG sebagai Koordinator Sub Pokja
Dalam arsitektur Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) di NTT, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memegang peran yang sangat krusial. BMKG secara resmi ditunjuk sebagai Koordinator Sub Kelompok Kerja (Pokja) Manajemen Informasi dan Peringatan Dini.
Sebagai koordinator, BMKG menjadi motor penggerak utama dalam memastikan data cuaca dan iklim tidak hanya berhenti sebagai informasi teknis, melainkan dapat memicu aksi keselamatan.
Kolaborasi sebagai Kunci Aksi Nyata
Keberhasilan sistem peringatan dini tidak diukur dari seberapa canggih alat pendeteksi atau seberapa cepat informasi disebarkan, melainkan dari kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam menerjemahkan informasi tersebut menjadi aksi nyata untuk melindungi masyarakat.
Workshop ini dirancang untuk mencapai beberapa target operasional, antara lain:
• Menghasilkan rencana kerja AMPD yang implementatif dan tidak sekadar konsep di atas kertas.
• Menyusun panduan operasional mengenai mekanisme pengambilan keputusan yang murni berbasis risiko dan dampak.
• Memperkuat kesiapsiagaan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Sebagai mitra strategis, WFP menegaskan bahwa mereka tidak membawa model baku dari luar. WFP hadir untuk memfasilitasi proses, memperkuat kapasitas, menghadirkan pengalaman global, serta mendukung Pemprov NTT dan BMKG dalam mengembangkan sistem peringatan dini yang paling sesuai dengan karakteristik dan kearifan lokal wilayah Nusa Tenggara Timur. Implementasi aksi dini adalah tanggung jawab bersama yang hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi erat tanpa ego sektoral.

Berita Terbaru Lainnya

2026-07-27
Baca Selengkapnya
2026-07-23
Baca Selengkapnya
2026-07-23
Baca Selengkapnya
2026-07-23
Baca Selengkapnya